Thursday, February 23, 2012

Penerbitan Digital: Menerbitkan Buku yang Layak dan Terjangkau


Mark Hanusz saat mendemonstrasikan digital publishing
Saya berkesempatan menghadiri presentasi interaktif “Digital Publishing and Indonesia” di @america yang berlokasi di Pacific Place lantai 3 Jakarta. Acara yang dilaksanakan pada Hari Rabu, 22 Februari 2012 pukul 19.00-20.20 WIB ini diisi oleh Mark Hanusz, penulis, penerbit, dan pendiri Equinox publishing sejak tahun 1999. Buku pertamanya adalah "Kretek" yang terbit pada tahun 2000. 

Berikut ini informasi yang saya olah dari akun twitternya @america.

Seperti kita ketahui, bahwa penerbitan digital telah mengubah proses penerbitan, percetakan dan pendistribusian ke seluruh dunia. Dalam acara tersebut dibahas bagaimana buku yang diterbitkan di Jakarta dapat dicetak ditempat lain di Indonesia, Australia, Inggris dan Amerika. Dibahas pula perkembangan ebooks dan ibookstore.

Hanusz menjelaskan bahwa saat ini ada dua jenis penerbitan. Penerbitan yang pertama adalah penerbitan tradisional, yaitu mencetak dan mendistribusikan buku dlm bentuk fisik. Yang kedua adalah penerbitan non-tradisional, yaitu mendistribusikan buku secara online.

Terdapat perbedaan perkembangan penerbitan yang begitu mencolok antara penerbitan buku tradisional dengan penerbitan buku non tradisional. Penerbitan buku tradisional mendominasi di tahun 2002 (87%). Kebalikannya di tahun 2010, penerbitan non tradisional mendominasi sebesar 90%. Papar laki-laki kelahiran 26 Juli 1976 ini.

Keuntungan dari penerbitan non tradisional adalah adanya print on demand atau POD. POD adalah cara menerbitkan buku berdasarkan permintaan, dengan begitu tidak ada lagi stok buku yang memenuhi gudang. Hanusz memperlihatkan cuplikan film yang menggambarkan banyaknya buku yang telah dicetak dan harus disimpan di gudang karena belum ada permintaan. 

POD dikembangkan setelah dimulainya penerbitan digital. Dengan POD, percetakan menjadi lebih ekonomis dibandingkan dengan percetakan tradisional. Saat ini Equinox memiliki 120 buku dengan sistem POD dari 150 buku yang dimiliki Equinox

Indonesia adalah pasar yang belum dimanfaatkan dalam penerbitan digital. POD (print on demand) adalah cara masa depan. Dengan POD membuat penerbitan layak dan terjangkau, karena biayanya sangat rendah.

2 comments:

  1. kalau soal harga buku bagaimana? apakah lebih murah POD atau bukan? cuma kalau beli via POD harus agak lama menunggu ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. @NF: Wah, kalo harga buku yang pasti dapat discount (kata Hanusz). Untuk lamanya, justru kalo POD bisa lebih cepat, karena tetap akan dicetak, walau permintaanya cuma satu.

      Delete

Terima Kasih. Salam Pustakawan!