Monday, February 11, 2013

Adian Husaini Luncurkan Buku Baru, Kritik Kurikulum Sejarah Indonesia


Dengan mempelajari sejarah setidaknya kita dapat mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Namun, jika informasi peristiwa sejarah itu dipelintir maka yang terjadi adalah kesalahpahaman dalam menyikapi informasi yang sudah tidak sesuai dengan faktanya tersebut.

Intelektual Muslim yang juga dikenal penulis produktif, Dr Adian Husaini kembali meluncurkan buku baru.  Buku baru berjudul “Pendidikan Islam: Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab”  diluncurkan di Masjid Darussalam Depok  baru-baru ini.

Dalam buku barunya, Adian menjelaskan tentang mendesaknya kurikulum pendidikan di Indonesia dibenahi. Di antaranya aspek kurikulum sejarah.
Menurut cendekiawan muda ini, kurikulum sejarah Indonesia yang benar mesti diajarkan kepada murid-murid. Saat ini kurikulum sejarah tidak menjadikan murid-murid Muslim Indonesia bangga  dengan sejarahnya.

Salah satu contoh yang mendapat kritik Adian adalah sejarah tentang Pangeran Diponegoro. Dalam sejarah yang banyak ditulis, Pangeran Diponegoro bukanlah berperang karena penjajah, tetapi merebut tanah makam leluhurnya atau iri hati karena tahta Mataram diserahkan kepada adiknya.

“Diponegoro berperang dengan niat jihad melawan tentara Belanda yang menzalimi rakyat dan menghalang-halangi pelaksanaan syariat Islam di Jawa. Saat itu dalam menghadapi Belanda, Diponegoro dibantu 108 kiai , 31 haji, 15 syeikh, 12 penghulu Jogyakarta dan 4 kiai guru yang turut berperang bersama Diponegoro,” ujarnya.

Karenanya, perang Diponegoro menjadi perang yang sangat menyita keuangan pemerintah kolonial bahkan hampir membangkrutkan negeri Belanda.
Korban perang Diponegoro mencapai orang 8.000 jiwa (korban orang  Eropa), pihak Belanda 7.000 jiwa, biaya perang 20 juta gulden dan korban rakyat pribumi yang tidak sedikit.

“Total orang Jawa yang meninggal, baik rakyat jelata maupun pengikut Diponegoro 200.000 orang. Padahal total penduduk Hindia Belanda waktu itu baru tujuh juta orang, separuh penduduk Yogyakarta terbunuh.”
Menurut Adian dalam bukunya, sejarah adalah hal penting dalam kehidupan manusia. Untuk melihat masa depannya, seseorang perlu memahami masa lalunya.

Al-Quran banyak memuat berbagai cerita umat-umat terdahulu. Dan umat Islam diminta bisa mengambil hikmah dari kisah-kisah masa lalu, untuk menjadi bekal dalam menyongsong masa depannya.

“Maka, jangan heran, jika setiap bangsa senantiasa merumuskan sejarah masa lalunya.  Sejarah juga sangat penting bagi kebangkitan suatu bangsa atau peradaban. Muhammad Asad (Leopold Weiss) dalam bukunya, Islam at the Crossroads, menulis: “No civilization can prosper – or even exist, after having lost this pride and the connection with its own past…”

Menurut Adian, menyadari arti penting sejarah ini, maka kaum penjajah juga secara serius merekayasa sejarah Indonesia. Khususnya yang menyangkut peran Islam dalam sejarah Indonesia.

Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah lama mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara.

Dalam bukunya, “Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu” yang diterbitkan tahun 1990),  Prof. Naquib al-Attas sudah menulis tentang masalah ini.

“Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini,”  ujar Adian menirukan Al Attas.

Menurut Adian,  anak-anak kita sejak kecil dicekoki paham salah semacam ini. Bahwa, Indonesia dulu mengalami kejayaan di masa Majapahit, yang hancur karena diserang Islam. Jadi, Islam justru yang menghancurkan kejayaan Indonesia.  Karena itulah, untuk mengembalikan kejayaan Indonesia, jangan membawa-bawa Islam, tetapi kembalikan kejayaan Majapahit dengan mengadopsi nilai-nilai Hindu.

Inilah yang disebut M. Natsir, mantan Perdana Menteri Indonesia zaman RIS, sebagai upaya nativisasi. Yaitu upaya penyingkiran Islam dari aspek kemasyarakatan dan kenegaraan. Dan berusaha mengembalikan Indonesia kepada budaya “asli” yang bercorak Hindu, Budha, dan animisme.

Sumber: 
news.fimadani.com
sdintegral-purwodadi.sch.id

No comments:

Post a Comment

Terima Kasih. Salam Pustakawan!